Hubungan Kecerdasan Spiritual dengan Prestasi Belajar Siswa

Oleh : Rohmat, S. Pd., M. Pd.I
(Guru SMK Negeri Majalengka)
Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar.
Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting, karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Menurut Oemar Hamalik (1994) belajar adalah “proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan”. Seseorang dinyatakan melakukan kegiatan belajar setelah ia memperoleh hasil, yakni terjadinya perubahan tingkah laku, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan sebagainya.
Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar.
Proses belajar di sekolah adalah proses yang sifatnya kompleks dan menyeluruh. Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi yang tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang tinggi, karena inteligensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan prestasi belajar yang optimal. Menurut Binet dalam buku Winkel (1997) hakikat inteligensi adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif.
Kenyataannya, dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan inteligensinya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan inteligensi tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah, namun ada siswa yang walaupun kemampuan inteligensinya relatif rendah, dapat meraih prestasi belajar yang relatif tinggi. Itu sebabnya taraf inteligensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang, karena ada faktor lain yang mempengaruhi. Menurut Goleman (2007), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama.
Memang harus diakui bahwa mereka yang memiliki IQ rendah dan mengalami keterbelakangan mental akan mengalami kesulitan, bahkan mungkin tidak mampu mengikuti pendidikan formal yang seharusnya sesuai dengan usia mereka. Namun fenomena yang ada menunjukan bahwa tidak sedikit orang dengan IQ tinggi yang berprestasi rendah, dan ada banyak orang dengan IQ sedang yang dapat mengungguli prestasi belajar orang dengan IQ tinggi. Hal ini menunjukan bahwa IQ tidak selalu dapat memperkirakan prestasi belajar seseorang.
Tingkat kecerdasan rasional (rational intelegence) yang ditunjukkan oleh nilai IQ (intelegence Quotient) dianggap sebagai faktor utama yang menentukan prestasi belajar di sekolah. Namun banyak anak yang kecerdasannya di atas rata-rata, tetapi prestasi belajarnya tidak baik dan anak-anak yang kecerdasannya hanya rata-rata tetapi mampu berprestasi dengan baik di sekolah.
Menurut Danah Zohar dan Ian Marshal (2007) bahwa individu dalam kehidupannya tidak hanya membutuhkan logika/otak dan emosi saja, tetapi ada hal lain yang sangat berhubungan dengan kebermaknaan hidup yaitu spiritualitas yang selanjutnya mereka menyebutnya dengan kecerdasan spiritual. Dalam bukunya yang berjudul Spiritual Iintelligent (Kecerdasan Spiritual) (2007 : 4), mengemukakan bahwa:
“Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain”.

Apa yang dikemukakan oleh Danah Zohar tersebut di atas menggambarkan bahwa dewasa ini remaja tengah berada pada permasalahan spiritualitas yang erat kaitannya dengan kebermaknaan dan nilai-nilai kehidupan. Orang yang memahami tentang kebermaknaan hidup ini akan dijadikan sebuah motivasi bagi dirinya, serta dapat medorong dirinya untuk melakukan suatu kegiatan yang berguna, sehingga tidaklah berlebihan sekiranya kecerdasan spiritual ada yang menyebutnya dengan sebagai kecerdasan hati nurani yang mana dalam kajiannya mempertajam aspek moralitas.
Kecerdasan spiritual merupakan potensi internal individu yang digunakan untuk berhadapan dengan masalah eksistensial yaitu saat seseorang secara pribadi merasa terpuruk, terjebak oleh kebiasaan, kekhawatiran, dan masalah masa lalunya akibat masa masalah dan kesedihan. Kecerdasan spiritual menjadikan seseorang sadar bahwa ia memiliki masalah eksistesial dan membuat kita mampu mengatasinya, atau setidaknya berdamai dengan masalah tersebut (Agus Nggermanto : 2003).
Kecerdasan spiritual dipandang dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi perilaku negatif remaja yang pada saat ini kerap menjadi permasalahan bagi lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat maupun bagi remaja itu sendiri. Oleh sebab itu diperlukan peran serta keluarga dan sekolah untuk membantu remaja dalam mengembangkan kecerdasan spiritualnya.
Kemunculan istilah kecerdasan; baik kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual dalam pendidikan, bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai jawaban atas kejanggalan tersebut. Seperti halnya teori yang diungkapkan Daniel Goleman bahwa EQ merupakan hal yang relatif baru dibandingkan IQ, namun beberapa penelitian telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional tidak kalah penting dengan IQ (Goleman, 2007).
Begitupun teori Danah Zohar, penggagas istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) dikatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’ ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence: 2007). Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif
Berangkat dari pandangan bahwa sehebat apapun manusia dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya pada saat-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu menurut Zakiah Darajat (1970) disebut sebagai pengalaman keagamaan (religious experience).
Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari (Abin Syamsuddin Makmun, 1996).
Begitupun yang terjadi pada remaja saat ini, mereka merasa senang jika mereka berada di lingkungan dimana mereka bebas untuk melakukan segala apa yang mereka inginkan. Tetapi justru disitulah mereka menemukan neraka di dalamnya, mereka terjebak di lingkungan yang sepi, sunyi dari ruh ilahiah. Tidak ada kedamaian di sana, yang ada hanyalah detik-detik penantian menuju kehancuran pada diri sendiri.
Berdasar pada temuan ilmiah yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall di atas, dan riset yang dilakukan oleh para peneliti lainnya ditemukan adanya God Spot dalam otak manusia, yang sudah secara built-in merupakan pusat spiritual (spiritual centre), yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak. Begitu juga hasil riset yang dilakukan oleh Wolf Singer menunjukkan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yang mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Suatu jaringan yang secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna. Pada God Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam (Ari Ginanjar, 2005).
Kajian tentang God Spot inilah pada gilirannya melahirkan konsep ’Kecerdasan Spiritual’, yakni suatu kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna.

Tentang rohmat67

Staf Pengajar di SMK Negeri 1 Majalengka
Pos ini dipublikasikan di Psikologi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s