Sumbangan Boleh, Pungutan Dilarang

OPINI
Sumbangan Boleh, Pungutan Dilarang

Oleh : Rohmat., S. Pd., M. Pd. I.
Dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya Bab III, pasal 4 ayat 6 berbunyi: Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
Melihat isi dari UU tersebut, setidaknya mutu sebuah pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga tanggung jawab semua komponen masyarakat. Hal ini mengandung pengertian bahwa setiap komponen masyarakat dituntut peran sertanya dalam pendidikan yang ada dilingkungan masing-masing.
Peran serta masyarakat tersebut dapat berupa dana untuk biaya operasional dan bangunan sekolah, pikiran untuk pengembangan langkah-langkah sekolah ke arah yang lebih baik, dan bantuan-bantuan lain yang sifatnya dapat mengembangkan lembaga pendidikan yang ada dalam lingkungannya masing-masing.
Setelah digulirkannya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan operasional Manajemen (BOM) untuk SMK, pemerintah melalui Depdiknas melarang sekolah-sekolah memungut dana dari masyarakat (wali murid) dalam bentuk apapun. Namun kenyataannya dari dana yang ada, setiap sekolah merasa kekurangan untuk mencukupi kebutuhan operasional sekolahnya. Apalagi jika dalam satu sekolah terdapat banyak guru-guru honor (Non PNS) yang terlibat dalam proses pengajaran.
Bagi sekolah yang berstatus Negeri dan banyak guru yang berstatus PNS, larangan memungut dana tidaklah masalah. Sebaliknya, bagi sekolah (Negeri/swasta) yang tenaga pengajarnya banyak guru honornya permasalahan-permaslahan muncul. Bagaimana mengelola uang yang ada dengan membagi antara membayar honor guru setiap bulannya dengan kebutuhan operasional sekolah yang lainnya.

Pungutan Dilarang, Sumbangan Boleh.
Dengan permasalahan yang sangat kompleks yang dihadapi manajemen sekolah, khususnya Kepala Sekolah di seluruh tanah air membuat sang pengambil kebijakan ikut memikirkan hal ini.
Kesimpang siuran antara boleh dan tidaknya memungut dana dari masyarakat untuk mengatasi permasalahan dalam dunia pendidikan kita itu terjawab sudah dengan pernyataan Menteri Pendidikan Nasinal.
Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo saat mendeklarasikan tuntas wajib belajar 9 tahun dan mencanangkan wajib belajar 12 tahun, sekaligus meresmikan SMK Negeri 2 Kotabaru, rabu (03/6). Mendiknas menyatakan angkat topi kepada para kepala sekolah yang sanggup menghimpun dana dari masyarakat lewat sumbangan tidak mengikat sehingga sekolahnya maju, makmur dan menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Namun, lanjut Mendiknas, sumbangan tidak sama dengan pungutan. “Kalau sekolah melakukan pungutan kepada peserta didik atau orang tua murid, itu dilarang. Tapi, kalau menerima sumbangan dari siapa pun, boleh saja. Saya tidak mengharamkan sekolah menerima sumbangan,” katanya.
Yang menjadi pertanyaan kita adalah apa bedanya sumbangan dengan pungutan? Lebih lanjut Mendiknas menjelaskan, pungutan sudah ditetapkan baik besar dan waktu membayarnya. Kalau sumbangan, tidak ada ketentuan besar kecilnya, dan menyerahkannya pun bisa kapan saja.
Disinilah peran kepala sekolah sangat dibutuhkan. Peran sebagai Top Manager untuk menghimpun dana dari masyarakat melalui sumbangan sehingga sekolahnya maju dengan arif dan bijaksana.
Kita membutuhkan kepala sekolah yang penuh inisiatif dan kreatif dalam memajukan sekolahnya, kepala sekolah yang bertanggung jawab kepada sekolahnya dengan sepenuh hati, dan kepala sekolah yang dapat menjelaskan kepada masyarakat pentingnya pendidikan yang bermutu tidak lepas dari dukungan semua lapisan masyarakat.
Memang sangat berat merubah image masyarakat tentang pendidikan gratis, terlebih-lebih mereka salah menafsirkan iklan yang mereka saksikan di media massa. Mereka menganggap pendidikan gratis adalah pendidikan yang serba gratis; modul gratis, buku gratis, eskul gratis, sampai kepada hal yang kecil misalnya pensil digratiskan oleh sekolah.
Semoga dengan bertambahnya keinginan masyarakat akan pentingnya mutu sebuah pendidikan, akan menambah dermanya untuk menyumbang biaya operasional sekolah. Semoga.

Tentang rohmat67

Staf Pengajar di SMK Negeri 1 Majalengka
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s