Maulid Nabi Muhammad SAW

KHUTBAH JUM’AT, 13 Maret 2009
MAULID NABI MUHAMMAD SAW
Oleh: Rohmat
Masjid Al-Imam, Desa Leuwikidang, Majalengka
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى ا للهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ:
يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah …
Segala puji bagi Allah, Rabb dan sesembahan sekalian alam, yang telah mencurahkan kenikmatan dan karuniaNya yang tak terhingga dan tak pernah putus sepanjang zaman kepada makhluk-Nya. Baik yang berupa kesehatan, kesempatan sehingga pada kali ini kita dapat menunaikan kewajiban shalat Jum’at.
Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada pemimpin dan uswah kita Nabi Muhammad, yang melalui perjuangannyalah, cahaya Islam ini sampai kepada kita, sehingga kita terbebas dari kejahiliyahan, dan kehinaan. Dan semoga shalawat serta salam juga tercurahkan kepada keluarganya, para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman.
Pada kesempatan kali ini tak lupa saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada jama’ah semuanya, agar kita selalu meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.
Ma’asyirol Muslimin rahimakumullah …
Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari senin tanggal 9 Maret 2009, sebagian ummat Islam, khususnya di Negeri tercinta ini, mengadakan kegiatan yang rutin dilakukan di setiap tahunnya. Hari itu adalah hari bertepatan tanggal 12 Rabi’ul Awal, yang menurut sejarah Islam adalah hari kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Berbagai kegiatan masyarakat lakukan, misalnya: dengan membaca shalawat atas Nabi, berdzikir, tahlil, tahmid, dan sampai membaca bacaan-bacaan sejarah Nabi, dari lahir sampai beliau wafat.
Bahkan, didaerah-daerah di penjuru nusantara ini masyarakat melakukan ritual-ritual sesuai dengan tradisinya masing-masing. Kalau kita saksikan di Televisi, ada masyarakat yang mengadakan shadaqoh pada fakir miskin, membagi-bagikan makanan, memandikan barang-barang pusaka yang dikeramatkan, sampai ada acara yang memperebutkan makanan karena hanya beranggapan makanan tersebut mengandung barokah.
Acara peringatan maulid Nabi pada tahun inipun, bagi para politikus dijadikan ajang untuk menarik simpati massa pemilih untuk memilihnya pada PEMILU yang akan datang. Baik dengan acara mauludan sampai acara iklan televisi. Bahkan ada kata forum pertemuan maulid nabi untuk menggalang koalisi pada Pemilu yang akan datang tersebut.
Hadirin Ikhwatu Iman Rk.
Timbul pertanyaan. Salahkah mereka untuk mengadakan acara seperti itu. Jawabnya wallahu ‘alam. Bagi khatib, apa yang mereka lakukan akan baik, jika yang dilakukannya itu atas dasar ajaran agama dan diniatkan dengan keikhlasan kepada Allah. Tetapi, apa yang mereka lakukan akan menjadi laknat Allah, jika melakukan atas dasar riya, dan tujuan-tujuan sesaat yang dilandasi nafsu keserakahan.
Hadirin Rohimakumullah!
Dengan memperingati maulid Nabi Muhammad Saw, setidaknya kita menemukan kembali satu titik momentum sejarah untuk mengungkapkan kehidupan dan jihad perjuangan Rasulullah Saw. Sebab dengan mengungkapkan kembali tarikh sejarah kehidupan beliau, kaum muslimin akan menemukan kembali mutiara-mutiara yang selama ini terpendam, untuk dijadikan obor jihad perjuangan bagi kaum muslimin masa kini dan masa yang akan dating.
Maka dari itu, setiap kali kita kaum muslimin memperingati maulidurrasul, seharusnyalah kita tidak melepaskan diri dari landasan pokok, yaitu peringatan yang terdapat dalam kitab suci Al Qur’anul hakim:
        •         
36. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Ayat diatas memperingatkan kita dengan jelas, bahwa segala sepak terjang kita, baik itu secara kelompok maupun secara pribadi, baik karya tindakan itu mengenai urusan keduniaan maupun urusan akhirat harus diperhitungkan untuk dapat dipertanggung jawabkan.
Hadirin Rahimakumullah!
Untuk menyambut dan memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw, marilah kita telusuri, kita hayati sepak terjang jihad perjuangannya. Salah satu pedoman kita untuk mengikuti sepak terjang Rasulullah Saw adalah Al Qur’an, surat Al Ahzaab ayat 21:
                 
21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
Hadirn Rohimakumullah!
Bulan Rabu’ul Awwal yang setiap tahun dirayakan oleh sebagian ummat Islam ini, selain bulan kelahiran Nabi, juga diketahui adalah bulan dimana beliau hijrah, dan bulan dimana beliau wafat.
Dengan demikian, seyogyanya peringatan-peringatan pada bulan Rabi’ul Awwal tiadalah semata-mata diletakkan untuk memperingati hari kelahiran beliau, tetapi haruslah bersifat global dan menyeluruh, untuk mengambil pelajaran dari seluruh peri kehidupan dan jihad perjuangan Rasulullah Saw.
Berkat kelahiran beliau, dunia seluruhnya mendapat nikmat dan rahmat yang tak terhingga. Dunia mendapat sinar cahaya hidayah setelah diliputi kegelapan jahiliyyah. Firman Allah:
     
107. dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Dari wafatnya beliau, kita harus sadar bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara. Setiap orang akan menemui kematian yang merupakan suatu musibah cobaan. Cobaan harus dihadapi dengan sabar. Dengan kematian, kita akan mentafakuri tentang kehidupan yang selama ini kita jalani. Sehingga dengan mentafakuri akan adanya kematian, akan timbul pertanyaan pada diri kita masing-masing:
– Sudahkah kita memanfaatkan umur yang diberikan Allah?
– Dengan hidup yang kita jalani itu, apakah banyak ibadahnya atau maksiatnya.
– Shalat yang lima waktu, sudah dilakukan atau belum? Puasa ramadhan sering dikerjakan atau malah sering ditinggalkan? Harta yang kita miliki; hasil panen, hasil perdagangan, hasil gaji dan hasil-hasil lainnya, sudah kita zakatkan atau belum?
– Anggota Keluarga; Bapak, Ibu, anak, paman, bibi, dan semua anggota keluarga, apakah berada dalam ketaatan kepada Allah atau sebaliknya?
– Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang kita tujukan pada diri sendiri.
Adapun peristiwa hijrah, yang penuh dengan kesulitan dan penderitaan, menumbuhkan suatu sikap mental kedalam jiwa kaum muslimin, yaitu sikap tawakkal. Tawakkal menyerahkan diri secara utuh kepada Allah SWT setelah melaksanakan segala ikhtiar usaha serta daya dan upaya, setelah berjihad melawan dan mengatasi kesukaran demi kesukaran.
Dengan demikian dapatlah kita simpulkan, bahwa dari celah-celah kehidupan Rasulullah terdapat tiga sikap hidup sebagai pedoman bagi seorang Muslim, yaitu: (1) Syukur atas segala kenikmatan yang telah Allah karuniakan kepada kita, (2) Sabar atas segala musibah dan penderitaan yang harus kita hadapi, dan (3) Tawakkal setelah melaksanakan ikhtiar untuk mengatasi segala penderitaan dan kesulitan.
Tiga sikap mental yang harus dipatrikan ke dalam jiwa setiap Muslim sebagai akhlak utama dalam mengarungi kehidupan untuk keselamatan dunia maupun keselamatan Akhirat.
Hadirin RK!
Penggalian kembali nilai-nilai luhur sebagai intisari kehidupan dan jihad perjuangan Rasulullah Saw pada bulan rabi’ul Awwal atau masyarakat menyebutnya dengan bulan maulud setiap tahun, adalah merupakan kesempatan yang baik. Karena hal itu sudah menjadi kebiasaan masyakat untuk melakukannya. Suatu kebiasaan untuk diambil manfaatnya saja.
Semoga Allah Swt membimbing kita untuk memahami Agama Islam secara utuh, menyeluruh sesuai yang tersurat dalam Al Qur’an maupun al-hadits.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.

Tentang rohmat67

Staf Pengajar di SMK Negeri 1 Majalengka
Pos ini dipublikasikan di Materi Khutbah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s