Mengembangkan Kepribadian Anak

Mengembangkan Kemandirian Anak

 

 

 

Oleh: Rohmat, S. Pd., M. Pd.I

(Guru SMK Negeri 1 Majalengka)

Setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini pada dasarnya tidak memiliki kemampuan apa-apa. Mereka terlahir dalam kondisi yang tidak berdaya, dan sangat membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat mernpertahankan kehidupan dan rnengembangkan dirinya. Selanjutnya, seiring dengan bertambah usianya, anak diharapkan semakin dapat mengurus dirinya sendiri, memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mengembangkan diri ke arah kedewasaan. Dengan perkataan lain, anak diharapkan mampu mengembangkan kemandiriannya.

Kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, yang pada akhirnya setiap individu mampu berpikir dan bertindak sendiri. Dengan kemandiriannya setiap anak dapat memilih jalan hidupnya untuk dapat berkembang sesuai dengan fungsi perkembangannya sendiri.

Perlu dimengerti oleh setiap orang dewasa bahwa kemandirian bukan merupakan sesuatu yang diturunkan atau dibawa sejak lahir, melainkan harus dibina, dikembangkan dan dipelajari dalam perjalanan kehidupan seseorang melalui pengalaman sehari-hari. Kemandirian juga bukan merupakan sesuatu yang dapat diberikan oleh orang lain bahkan oleh orang tua, melainkan harus ditumbuhkan dari dalam diri anak sendiri.

Maka dari itu, agar kemandirian setiap anak bisa tumbuh secara wajar dan positif diperlukan iklim yang kondusif, yaitu misalnya iklim keluarga di mana anak merasa aman, dicintai dan diterima sebagaimana adanya, mendapat peluang serta didorong untuk mempelajari berbagai hal tanpa khawatir mendapatkan celaan. Lingkungan sekolah di mana anak merasa dihargai manusia dewasa, dihormati karena memiliki kepribadian yang mantap, dan didorong untuk membagun diri sendiri tanpa ada ikatan dengan orang lain.

Kemandirian bukan merupakan sesuatu yang bersifat “abstrak” tetapi merupakan gejala kontinu. Tidak ada seorang anak pun yang sama sekali tidak rnemiliki kemandirian, karena bila demikian maka ia tidak akan dapat mengembangkan diri bahkan tidak dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sebaliknya, tidak ada seorang pun yang sama sekali mandiri, sama sekali tidak membutuhkan orang lain di dalam upaya pemenuhan kebutuhan-kebutuhannya. Setiap anak memiliki kernandirian, hanya dalam derajat yang berbeda-beda.

            Dengan asumsi bahwa setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya, ia akan tergantung pada orang tua dan orang-orang yang berada di lingkungannya hingga waktu tertentu. Seiring dengan berlalunya waktu dan perkembangan selanjutnya, seorang anak perlahan-lahan akan melepaskan diri dari ketergantungannya pada orangtua atau orang lain di sekitarnya dan belajar untuk mandiri. Hal ini merupakan suatu proses alamiah yang dialami oleh semua makhluk hidup, tidak terkecuali manusia. Mandiri atau sering juga disebut berdiri diatas kaki sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Kemandirian dalam konteks individu tentu memiliki aspek yang lebih luas dari sekedar aspek fisik.

Kemandirian Remaja

            Selama masa remaja, tuntutan terhadap kemandirian ini sangat besar dan jika tidak direspon secara tepat bisa saja menimbulkan dampak yang tidak menguntungkan bagi perkembangan psikologis sang remaja di masa mendatang. Ditengah berbagai gejolak perubahan yang terjadi di masa kini, betapa banyak remaja yang mengalami kekecewaan dan rasa frustrasi mendalam terhadap orangtua karena tidak kunjung mendapatkan apa yang dinamakan kemandirian.

Dari pengamatan penulis, banyak anak remaja yang mengalami kebingungan-kebingungan dan berkeluh kesah dengan permasalahan yang mengenai dirinya. Misalnya, mereka menyesali karena terus menerus dianggap sebagai seorang anak kecil yang segala kehidupannya masih perlu diatur oleh kedua orang tuanya. Mereka merasa sudah remaja, dengan argumennya sudah berusia 15 tahun. Salah satu contohnya adalah dalam memilih sekolah. Dalam hal ini masih banyak ditemui orangtua yang sangat ngotot untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah yang mereka kehendaki meskipun anaknya sama sekali tidak berminat untuk masuk ke sekolah tersebut. Akibatnya remaja tersebut tidak memiliki motivasi belajar, dia kehilangan gairah untuk sekolah dan tidak jarang justru berakhir dengan Drop Out dari sekolah tersebut.

Dengan kisah berbeda, ada perbedaan antara keinginan orang tua dan anaknya yang ingin memilih program studi/jurusan. Ketika mendaftar ke SMK secara kolektif seorang anak memilih jurusan Otomotif mengikuti pilihan teman-temanya. Hal ini bertolak belakang dengan saran orangtuanya yang menginginkan anaknya masuk jurusan Teknologi Komputer. Cerita akhir dari kejadian sudah diduga, pasti ada perselisihan pendapat dengan permasalahan ini. Anak bersikukuh dengan pilihannya, orangtua dengan arogannya memaksa anak mengikutinya. Akibatnya anak akan terombang ambing perasaannya, antara pilihan pribadi dan pilihan orang tua.

Mencermati kenyataan tersebut, peran orangtua sangatlah besar dalam proses pembentukan kemandirian seorang.  Orangtua diharapkan dapat memberikan kesempatan pada anak agar dapat mengembangkan kemampuan yang dimilikinya, belajar mengambil inisiatif, mengambil keputusan mengenai apa yang ingin dilakukan dan belajar mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Dengan  demikian anak akan dapat mengalami perubahan dari keadaan yang sepenuhnya tergantung pada orang tua menjadi mandiri.

Tentang rohmat67

Staf Pengajar di SMK Negeri 1 Majalengka
Pos ini dipublikasikan di Psikologi. Tandai permalink.

2 Balasan ke Mengembangkan Kepribadian Anak

  1. mangawik berkata:

    bagus….. guru adalah pribadi yang unggul dan penuh pahala…. tanpa ragu membimbing anak orang lain untuk mencapai kesuksesan hidupnya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s